16
Feb
09

POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN

PENDAHULUAN
Polah asuh dan perilaku delinkuen?…mungkin sebagian dari pembaca merasa kaget dengan judul posting saya kali ini? Mungkin sebagian dari pembaca merasa tidak percaya?….. atau bahkan ada yang marah dan tidak setuju dengan judul posting ini?….JANGAN APATIS DULU SAYA AKAN BERI PENJELASAN BUAT PENGUNJUNG SETIA BLOG INI.
Sebagian dari pembaca mungkin tidak asing lagi dengan kejadian-kejadian atau masalah-masalah berikut:
1. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sering membolos sekolah karena disekolahkan oleh orang tua di sekolah yang bukan menjadi pilihannya, atau disuruh mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya.

2. Siswa malas belajar di sekolah karena merasa kurang diperhatikan oleh orang tua.

3. Siswa terlibat perkelahian antar pelajar karena terpengaruh oleh temannya.

4. Siswa mendapatkan nilai jelek di sekolah karena lebih mementingkan hubungannya dengan sang pacar, daripada harus belajar.

5. Siswa lebih suka mencari solusi atas masalah yang dihadapinya kepada teman daripada harus bertanya kepada orang tua.

6. Siswa tidak betah di rumah dan tidak berani mengkomunikasikan permasalahan dengan orang tua, akibatnya siswa terjerumus kedalam solusi yang menyesatkan.

7. Siswa melakukan hubungan seks pra-nikah, karena tidak dapat mengontrol dorongan seksualnya.

8. Siswa terjebak pada penggunaan NARKOTIKA karena tidak memperoleh solusi dari masalah yang sedang dihadapinya.

9. Dan banyak lagi permasalahan siswa yang ada di sekitar kita, atau bahkan mungkin di rumah-rumah kita.

Pertanyaannya adalah, KENAPA REMAJA ATAU SISWA TIDAK PERNAH TERLEPAS DARI MASALAH?, KENAPA BANYAK ORANG TUA YANG MERASA TELAH MENDIDIK REMAJANYA DENGAN BAIK TETAPI REMAJANYA TETAP BERPERILAKU DELINKUEN?, KENAPA BANYAK PARA GURU YANG MENGELUH KARENA MURIDNYA TIDAK MAU MENDENGARKAN NASEHATNYA DAN SELALU MELANGGAR ATURAN-ATURAN SEKOLAH?, BAHKAN KENAPA PARA PENGASUH PESANTREN JUGA MASIH BISA MENGELUH KARENA MERASA GAGAL MENDIDIK SANTRINYA?, salah satu penyebab dari semua kegagalan itu tidak lain adalah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para orang tua, para pendidik, dan mohon maaf para empunya pesantren dalam memahami kondisi psikologis remaja sehingga cara pengasuhan yang diberikan justeru akan mendorong para remaja untuk melawan, membuat kelompok serta norma atau nilai-nilai sendiri yang tidak jarang mengantarkan mereka pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan sosial.Para orang tua dan pendidik selama ini masih mendasarkan cara pengasuhannya pada pemberian doktrin, perintah,tanpa memberi ruang untuk bertanya, harus melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tua, orang tua lebih tau segalanya, dan…..sementara itu seiring dengan perkembangan remaja pada ranah fisik, kognitif, sosial, psikoseksual, dan emosi telah terjadi banyak pergeseran. Misalnya pada masa remaja lebih membutuhkan dukungan (support) daripada pengasuhan (nurturance), lebih membutuhkan bimbingan (guidance) daripada hanya perlindungan (protection), dan remaja lebih membutuhkan pengarahan (direction) daripada sosialisasi (socialization) (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Conger 1977 dalam Aspin 2007).

LEBIH DEKAT DENGAN REMAJA

Definisi remaja
Menurut Hurlock masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa (Hurlock, 1993), disebut masa peralihan karena pada fase ini remaja secara fisik telah mengalami perkembangan sebagaimana layaknya orang dewasa dan perkembangan fisik ini selanjutnya mengarahkan remaja kepada pembentukan dan pencarian identitas dirinya (Santrock, 1995). Perkembangan fisik membuat remaja merasa dirinya telah dewasa dan harus mendapat peran yang sama sebagaimana orang dewasa dalam membuat keputusan, menentukan kegiatan, menentukan tempat sekolah dan lain sebagainya. Sementara disisi lain perkembangan fisik yang telah matang pada remaja tersebut tidak diikuti dengan kematangan emosi, kognitif dan ranah psikologis yang lain, sehingga para orang dewasa masih menganggap mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan pengasuhan bukan dukungan, yang membutuhkan perlindungan bukan bimbingan dan membutuhkan sosialisasi bukan pengarahan. Kekaburan peran ini menjadikan masa remaja menjadi masa yang penuh dengan goncangan (orang barat menyebutnya dengan sturm und drung), masa peralihan dan masa pencarian identitas (Hurlock, 1993, Darajad, 1970,Bisri, 1995, Monks, 2002). LEBIH DETAIL DAN LEBIH JELASNYA TENTANG DEFINISI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

Perkembangan kognitif, emosi, sosial, psikoseksual

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka (Setiono, 2002).

PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGN PSIKOSEKSUAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

POLAH ASUH & DAMPAKNYA
Menurut Diana Baumrind (1971,1975,1978, 1987) seperti dikemukakan oleh G. Peterson dalam B. Furhman (1990) ada tiga macam gaya pengasuhan orang tua yakni:
1. Gaya pengasuhan authoritarian. Model komunikasi antar orang tua dan anak dalam gaya pengasuhan ini sangat kaku, dimana orang tua cenderung memberi perintah, tidak memberi kesempatan untuk bertanya, tidak memberikan penjelasan tentang tugas yang diberikan kepada anak, dan menghasruskan anak agar menjalankan semua perintah dan aturan yang diberikan tanpa harus mengetahui alasan, tujuan dan tanpa boleh bertanya. Orang tua yang menggunakan gaya pengasuhan ini cenderung menganggap bahwa anak pasti akan menerima dan menjalankan perintah yang dianggap baik oleh orang tua (Baumrind, 1968), meskipun “tidak dianggap baik oleh anak”. Orang tua authoritarian adalah orang tua yang menuntut dan kurang memberikan otonomi, serta gagal memberikan kehangatan kepada anak/remaja mereka (Baumrind dalam Decey & Kenny, 1997). Gaya pengasuhan authoritarian cenderung menuntut anak untuk melakukan sesuatu yang disesuaikan dengan standart orang tua, berdasarkan atas keinginan dan kebutuhan orang tua, serta sangat dogmatis tanpa membuka ruang untuk kritik, alasan dan pertanyaan. Sehingga gaya pengasuhan authoritarian sangat potensial bagi munculnya konflik,penentangan atau perlawanan remaja, dan ketergantungan remaja terhadap orang tua(Rice, 1996).

2. Gaya pengasuhan permissive. Model komunikasi orang tua dalam gaya pengasuhan ini sangat longgar dan terlalu bebas, diaman orang tua memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk memilih kegiatan, mengambil suatu keputusan tanpa adanya kontrol dari orang tua. Orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung tidak menganjurkan anak untuk mematuhi aturan-aturan sosial dan tidak menggunakan wewenang serta kekuasaan dengan tegas dalam usaha membesarkan remajanya (Baumrind, 1968). Orang tua permissive meyakini bahwa kontrol atau pengendalian merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan remaja yang dapat
menganggu perkembangan kesehatannya. Orang tua permissive longgar secara berlebihan dan disiplin yang tidak konsiste(Steinberg, 1993, Hetherington dan Parke, 1993, dalam Aspin, 2007). Dampak dari model pengasuhan ini adalah membuat remaja tidak matang dalam berbagai aspek sosial, cenderung impulsiv, tidak patuh terlalu menuntut, sangat bergantung pada orang lain dan kurang gigih dalam mengerjakan tugas-tugas (Baumrind, 1975). Remaja yang terlalu diberi kebebasan tanpa pembatasan yang jelas akan menjadi suka menang sendiri, egoistis, mementingkan diri sendiri, dan mengjengkelkan. Ketiadaan
bimbingan dan arahan dari orang tua dapat mengakibatkan mereka merasa tidak aman, tidak punya orientasi, dan penuh keraguan. Apabila remaja menafsirkan kelonggaran pengawasan orang tua sebagai tidak adanya perhatian atau penolakan,
maka remaja itu mempersalahkan orang tua karena dipandang lalai memperingatkan atau menuntun mereka (Rice, 1996).

3. Gaya pengasuhan Authoritative. Model komunikasi orang tua dengan gaya pengasuhan ini adalah bentuk interaksi antara orang tua dengan anak, dalam mana orang tua melibatkan anak dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya dengan keluarga, orang tua dengan gaya ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menanyakan alasan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Orang tua dengan gaya ini menerapkan aturan-aturan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan bukan berdasarkan kebutuhan orang tua, orang tua dengan gaya ini memiliki ketegasan dalam membimbing anak dan tetap memiliki komunikasi yang hangat terhadap anak.Orang tua selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat perencanaan-perencanaan kegiatan, meskipun keputusan tetap ada pada orang tua. Orang tua akan mendengarkan alasan-alasan anak dalam merencanakan suatu kegiatan dan akan meminta penjelasan kepada anak jika orang tua tidak setuju dengan kegiatan yang dilakukan anak.Remaja didorong untuk melepaskan diri (self-detach) secara berangsur-angsur dari keluarga (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Thornburg
1982). Kualitas-kualitas gaya pengasuhan authoritative diyakini dapat lebih menstimulir keberanian, motivasi dan kemandirian remaja menghadapai masa depannya. Gaya pengasuhan ini mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial pada remaja (Santrock,1985). Remaja dari keluarga authoritative hidup penuh dengan semangat dan bahagia,percaya diri dalam penguasaan tugas-tugas baru, dan memiliki pengendalian diri
dalam mengelola kemampuan-kemampuan mereka untuk tidak bertindak anarkis (Baumring, 1967). Gaya pengasuhan authoritative membuat remaja memilikikemandirian yang tinggi, mampu menggalang persahabatan dan kerja sama, menumbuhkan harga diri yang tinggi, memiliki kematangan sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya maupun keluarganya (Berk, 1994, Lamborn et al, 1991).

POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN
Telah saya jelaskan diatas bahwa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa, dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan fisik layaknya orang dewasa, mengalami perkembangan emosi yang labil, mengalami perkembangan sosial dimana pada fase ini remaja cenderung membentuk kelompok-kelompok sosial yang tidak jarang bertentangan dengan norma sosial, perkembangan psikoseksual dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan hormon-hormon seks yang dapat mendorongnya pada perilaku seksual, perkembangan kognitif dimana pada fase ini remaja telah berada pada fase operasional formal suatu fase perkembangan kognitif yang secara ideal remaja telah mampu berfikir layaknya orang dewasa dan para ilmuwan yang selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas informasi yang diterimanya.

Perkembangan-perkembangan yang terjadi pada remaja tersebut, jika tidak mendapat kontrol serta bimbingan dari orang tua justeru akan membawa remaja kepada perilaku-perilaku delinkuen, karena remaja akan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan emosi, berdasar nilai kelompok remajanya, berdasar pemikirannya, yang tidak jarang bertentangan dengan norma-norma sosial. Sebagai contoh seorang pelajar yang terjebak dalam penyalah gunaan narkoba disebabkan oleh masalah yang dihadapinya, karena tidak dapat menyelesaikan masalahnya, takut bercerita kepada orang tua karena khawatir dihukum dan dimarahi, pada akhirnya pelajar tersebut menceritakan masalahanya kepada kelompok remajanya (masih ingat remaja telah mengalami perkembangan sosial) dan kemlompok remajanya memberikan solusi NARKOBA dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Disinilah peran polah asuh dalam membentuk perilaku delinkuen, polah asuh yang authoritarian (tidak memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, tidak hangat, cenderng memerintah, memarahi tanpa membuka ruang untuk alasan) dan polah asuh yang permisive (terlalu memberikan kebebasan kepada remaja tanpa adanya kontrol) tentu saja hanya akan membuat remaja tidak betah di rumah, lebih suka bergaul dengan teman sebayanya daripada dengan keluarga, lebih berani menceritakan masalahnya dengan kelompok sebayanya daripada dengan orang tua, lebih suka mendengarkan kata teman sebayanya daripada kata orang tua yang dianggap tidak memahami keberadaan dirinya dan apa yang dirasakannya………dan pada akhirnya remaja justeru terperangkap pada solusi-solusi pemecahan masalah yang menyesatkan (ingat remaja secara fisik memang telah menyamai orang dewasa tetapi secara psikologis mereka masih seperti anak-anak sehingga sangat membtuhkan bimbingan dan kontrol).

Akhirnya polah asuh yang authoritative, polah asuh yang mau melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan-keputusan keluarga yang menyangkut dirinya, polah asuh yang memberi ruang untuk bertanya, berargumen dan memberikan rasa aman, kehangatan, kedekatan yang akan mampu mengarahkan remaja pada perilaku-perilaku yang konstruktif dan positif.

DAFTAR PUSTAKA
Baumrind, D., 1971, Current Patterns of Parental Authority, Developmental Psychology Monographs.
Fuhrmann, B.S., 1990, Adolescence, Adolescents, Second Edition, Scott,
Rice, F. P. 1996, The Adolescent : Development, Relathionship, and Culture. Massachusetts : Allyn and Bacon
Steinberg, 1993, Adolescence, Third Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.
Thornburg,. H.D, 1982, Dvelopment in Adolescence. California : Brooks/Cole
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Darajad., Zakiah, 1970, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta:Bulan Bintang.
_____________, 1995, Remaja Harapan dan Tantangan, Jakarta:Ruhana.
Bisri., Hasan, 1995, Remaja Berkualitas, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Setiono., Lili H., 2002, Beberapa Permasalahan Remaja, Dalam http://www.e-psikologi.com.
Aspin, 2006, Hubungan Gaya Pengasuhan Orang Tua Authoritarian Dengan Kemandirian Emosi Remaja, Tesis: Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung.

ARTIKEL INI JUGA DAPAT DILIHAT DI
SUHADIANTO.BLOGSPOT.COM.

UNTUK MELIHAT TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS. WORD, MS. EXCEL, MS. POWER POINT , PDF DAPAT DILIHAT DI
IKAPSI.MULTIPLY.COM.

ARTIKEL TERKAIT:
ARTIKEL TERKAIT:

KONSEP DIRI POSITIF:KUNCI KEBERHASILAN HIDUP
.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, S.Psi,M.Psi, Psikolog Dosen Fakultas Psikologi UNTAG 1945 Surabaya------Dosen LB Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA Surabaya

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com