11
Des
08

EARLY INFANTILE AUTISM

Seorang anak berlari-lari dengan riangnya kesana kemari. Dengan wajah ceria ia bolak-balik mematikan kenop lampu yang ada di ruangan rumahnya. Teriakan dan larangan ibunya sama sekali tidak dihiraukannya, seakan-akan ia tidak mendengar suara panik sang ibu yang takut terjadi sesuatu pada anaknya. Beberapa menit kemudian ketika “jingle” sebuah iklan muncul di TV, tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya dan berlari kearah TV serta mendengarkan dengan seksama “jingle iklan“ tersebut. Sesaat iklan tersebut berakhir, ia kembali berlari-lari dengan tangan yang berkali-kali dihentakkan ke bawah disertai kata-kata atau suara yang hanya ia sendiri dapat mengerti.”
Gejala-gejala seperti ilustrasi diatas belakangan banyak terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Autis adalah salah satu dari kesekian gangguan perkembangan yang prevalensinya semakin meningkat belakangan ini. dari 1 : 5000 anak pada tahun 1943 saat Leo Kanner memperkenalkan istilah autisme menjadi 1 : 100 ditahun 2001 (Nakita, 2002).

PENGERTIAN AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer), Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation. Belakangan istilah psikosis cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental dis-orders), secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik.

Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan dengan sidrom Asperger atau autis Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.

GEJALA-GEJALA YANG NAMPAK
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Chris Williams dan Barry Wright (2007) mengemukakan beberapa simptom autistik yang mungkin sudah muncul diusia 18 bulan, seperti: tidak melakukan kontak mata, tidak merespon segera jika dipanggil nama, tampak berada “didunianya sendiri”, mengalami hambatan perkembangan bahasanya, kehilangan kemampuan berbahasa, tidak menggunakan bahasa tubuh, tidak memahami sikap tubuh orang lain, tidak bermain pura-pura, lebih tertarik pada bagian-bagian permainan, gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit). Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak dengan indikator perkembangan yang normal.

TAHAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
Fiksasi pandangan : Lahir
Mengikuti benda melalui garis tengah : 2 bulan
Mengetahui adanya benda kecil : 5 bulan

MOTORIK HALUS
Telapak tangan terbuka : 3 bulan
Menyatukan kedua tangan : 4 bulan
Memindahkan benda antara kedua tangan : bulan
Meraih unilateral : 6 bulan
Pincer grasp imatur : 9 bulan
Pincer grasp matur dengan jari : 11 bulan
Melepaskan benda dengan sengaja : 12 bulan

PEMECAHAN MASALAH
Memeriksa benda : 7 – 8 bulan
Melemparkan benda : 9 bulan
Membuka penutup mainan : 10 bulan
Meletakkan kubus dibawah gelas : 11 bulan

MENGGAMBAR
Mencoret : 12 bulan
Meniru membuat garis : 15 bulan
Membuat garis spontan : 18 bulan
Membuat garis horizontal & vertikal : 25 -27 bulan
Meniru membuat lingkaran : 30 bulan
Membuat lingkaran spontan tanpa
Melihat contoh : 3 tahun

MELAKSANAKAN TUGAS
Memasukkan biji kedalam botol : 12 bulan
Melepaskan biji dengan meniru : 14 bulan
Melepaskan biji spontan : 16 bulan

MENYUSUN KUBUS
Menyusun 2 kubus : 15 bulan
Menyusun 3 kubus : 16 bulan
Kereta api dengan 4 kubus : 2 bulan
Kereta api dengan cerobong asap : 2. Tahun
Jembatan 3 kubus : 3 tahun
Pintu gerbang dari 5 kubus : 4 tahun
Tangga dan dinding dari beberapa kubus
Tanpa melihat contoh : 6 tahun

MAKAN
Makan biskuit yang dipegang : 9 bulan
Minum dari gelas sendiri/menggunakan sendok : 12 bulan

BERPAKAIAN
Membuka baju sendiri : 24 Bulan
Memakai baju : 36 bulan
Membuka kancing : 36 bulan
Memasang kancing : 48 bulan
Mengikat tali sepatu : 60 bulan

TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA
Bereaksi terhadap suara : Lahir
Tersenyum social : 5 minggu
Orientasi terhadap suara : 4 bulan
Mengerti perintah tidak boleh : 8 bulan
Mengerti perintah tanpa mimic : 14 bulan
Menunjuk 5 bagian tubuh yang disebutkan : 8 bulan
Menoleh kepada suara bel : Fase 1, 5 bln
Fase 2, 7 bln
Fase 3, 9 bln
Mengerti perintah ditambah mimic : 11 bulan

EKSPRESIF

Ooo-ooo : 6 minggu
Guu, guuu : 3 bulan
a-guuu, a-guuu : 4 bulan
Mengoceh : 4-6 bulan
Dadadada (menggumam) : 6 bulan
Da-da tanpa arti, Ma-ma tanpa arti : 8 bulan
Dada : 10 bulan
Mama & kata pertama selain mama : 11 bulanKata kedua : 12 bulanKata ketiga : 13 bulan
4 – 6 kata : 15 bulan
7 – 20 kata : 17 bulan
Kalimat pendek 2 kata : 21 bulan
50 kata & kalimat terdiri dari 3 kata : 3 tahun
Kalimat terdiri dari 4 -5 kata, bercerita,
menanyakan arti suatu kata,
menghitung sampai 20 : 4 tahun

Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dstnya.
Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya.
Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.

KRITERIA DIAGNOSTIK
Autistik (Autistic Disorder) berbeda dengan gangguan Rett (Rett’s Disorder), gangguan disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger (Asperger’s Disorder).

Secara detail, menurut DSM IV, kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut:

A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) :
1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalamsedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini:
Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial.
Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain.
Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:
Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal.
Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi
Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang.
Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf perkembangannya.
3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini:
Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus dan intensitas yang abnormal atau berlebihan.
Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas
Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh.
Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek.
B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak.

PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
Teori Psikoanalitik (efrigerator mother).
Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind)
Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikirn orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
Autisme sebagai gejala neurologis.
Teori Biologi
Autis disebabkan oleh Faktor genetik
Teori Imunologi
Autis disebabkan oleh infeksi virus.

BEBERAPA GANGGUAN YANG MENYERTAI AUTIS
Gangguan tidur dan makan.
Gangguan afek dan mood.
Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Gangguan kejang (10 – 25 %).
Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).

PENGGOLONGAN AUTISM
Autism (autisme masa anak-anak).
Autisme atipikal atau pervasive develompmental disorder-not Otherwise Specified
High Functioning Autism
Low Functioning Autism

PENANGANAN
Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi (treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anakanak lain secara normal. (Wenar, 1994)
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
Hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
Prognosis yang lebih baik.
Terapi yang intensif dan terpadu.

TERAPI YANG TERPADU
Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yangterpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:
Terapi medikamentosa
Terapi psikologis
Terapi wicara
Fisioterapi

PUSTAKA ACUAN

Safira Triantoro. 2005. Autisme: Pemahaman Baru Untuk Hidup Bermakna Bagi Orang Tua, Jakarta:Garaha Ilmu.
Attwood Tony. 2005. Sindrom Asperger. Jakarta:Serambi.
William Chris & Barry Wright. 2004. How to Live With Autism and Asperger Syndrome. Jakarta:Dian Rakyat.
Hadis Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung:Alfabeta.
Maulana Mirza. 2007. Anak Autis. Yogyakarta:Kata Hati.
Yayasan Autisma Indonesia. 1998. Pelatihan Tata Laksana Perilaku Pada Penyandang Autisme Masa Kanak. Jakarta.
Simposium Sehari. 1997. Gangguan Perkembangan Pada Anak. Jakarta:Yayasan Autisma Indonesia.
Kaplan Harold & Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid-2. Jakarta: Binarupa Aksara.
Budiman Melly. 1998. Makalah Simposium. Pentingnya Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan Terpadu pada Autisme. Surabaya.
Gulo Dali. 1982. Kamus Psikologi. Bandung:Tonis.
Yusuf Elvi Andriani. 2007. Materi Perkuliahan Fakultas Psikologi. Autisme Masa Kanak. Sumatera.
Tracy Vail dan Denise Freeman. 2006. Makalah. Verbal Behaviour Training Manual. The Mariposa School for Autistic Children, North Carolina.
Ginanjar Adriana S. 2007. Disertasi. Memahami Spektrum Autistik Secara Holistik. Jakarta:Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.


0 Responses to “EARLY INFANTILE AUTISM”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, S.Psi,M.Psi, Psikolog Dosen Fakultas Psikologi UNTAG 1945 Surabaya------Dosen LB Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA Surabaya

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com