10
Des
08

HUBUNGAN EQ DENGAN PERILAKU DELINKUEN

Kenakalan remaja diakibatkan oleh pengabaian sosial remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan fisik dan psikologis pada fase ini. Pengabaian sosial ini terjadi karena remaja kurang memiliki kontrol diri dan cenderung meluapkan emosi-emosinya terhadap stimulus-stimulus diluar dirinya. Ketegangan emosi tinggi, dorongan emosi sangat kuat dan tidak terkendali membuat remaja sering mudah meledak emosinya dan bertindak tidak rasional (Sari, 2005). Goleman, 1995 menjelaskan bahwa kecerdasan emosional yang rendah ditandai dengan ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi antar pribadi (Yanti, 2002).

Lebih jelas Jeanne Segal dalam bukunya Melejitkan Kepekaan Emosi mengatakan, wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi; EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial…. Dengan EQ tinggi anda mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam ketika perasaan-perasaan ini muncul, dan benar-benar dapat mengenali diri anda sendiri. Dengan menjaga jalur komunikasi tetap terbuka lebar antara amigdala dengan neokorteks, ini dapat menunjukkan anda bela rasa, empati, penyesuaian diri dan kendali diri (Segal, 2000).

Dari pendapat Goleman dan Jeanne Segal diatas telah cukup jelas bahwa perilaku delinkuen pada dasarnya disebabkan oleh ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi yang positif terhadap stimuli diluar dirinya yang pada akhirnya akan mengarah pada perikau agresif dan delinkuen. Pendapat Goleman dan Jeanne Segal diatas senada dengan gagasan teori Psikogenis yang menyatakan perilaku delinkuen adaalah merupakan bentuk penyelesaian atau kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal atau sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis (Kartono, 1998). Selanjutnya Brooks & Emmert merinci bahwa dalam suatu hubungan yang positif sekurang-kurangnya dijumpai unsur-unsur afeksi, penerimaan, cinta dan rasa bahagia karena ada bersama orang lain (Saad, 2003). Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif, misalnya: asosial ataupun anti-sosial. Bahkan yang lebih ekstrem bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb (Apriyanti, 2006).

John Gottman setelah melakukan penelitian selama sepuluh tahun terhadap orang tua dan anak-anak, menemukan hasil bahwa anak yang memiliki kecerdasan emosi tinggi mampu berhubungan lebih baik dengan orang lain, bahkan dalam situasi-situasi sosial yang sulit (De Claire, 2003). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengaruh-pengaruh konflik rumah tangga, seperti: kegagalan akademis, agresi dan kesulitan-kesulitan dengan rekan sebaya tidak terjadi pada anak-anak yang dilatih emosinya (De Claire, 2003).

Masih menurut Gottman, menurutnya anak yang mendapat pelatihan kecerdasan emosi dari orang tua, mereka secara emosional akan lebih cerdas, lebih penuh pengertian dan lebih mudah menerima perasaan-perasaan mereka sendiri. Mereka akan memiliki lebih banyak pengalaman memecahkan masalah sendiri dan bersama orang lain. Sebagai akibatnya mereka akan mengalami lebih banyak sukses di sekolah dan dalam hubungan mereka dengan rekan-rekan sebaya. Dengan adanya faktor-faktor pelindung semacam itu, kaum remaja ini akan terlindung dari resiko-resiko yang dihawatirkan oleh semua orang tua, seperti menggunakan obat-obat terlarang, kenakaln, kekerasan dan seks yang tidak aman (Dalam De Claire, 2003).

DAFTAR PUSTAKA:

May Yustika Sari, “Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopatik pada Remaja Delinkuen di Lembaga Pemasyarakatan”:, Jurnal Anima, (Vol. 20, 2005).

Suyanti, dkk, “Pengaruh Pelatihan Emotional Literacy Terhadap Kecerdasan Emosi Remaja”:, Jurnal Anima, (Vol. 17, 2002).

Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosi, terjemahan oleh Ary Nilandari, (Bandung:Kaifa, 2000).

Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998).

Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003).

Irni Resmi Apriyanti, Perilaku Remaja, (http// http://www.pikiran-rakyat.com/squirrelmail/src/login.php, diakses 27 Maret 2006).

John Gottman & Joan DeClaire, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003).


0 Responses to “HUBUNGAN EQ DENGAN PERILAKU DELINKUEN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, S.Psi,M.Psi, Psikolog Dosen Fakultas Psikologi UNTAG 1945 Surabaya------Dosen LB Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA Surabaya

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com