02
Nov
08

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU DELINKUEN-1

A.LATAR BELAKANG
Globalisasi dan modernisasi lengkap dengan teknologinya telah menyebabkan perubahan-perubahan yang begitu cepat diberbagai aspek kehidupan manusia, baik yang sifatnya negatif maupun yang sifatnya mendukung pembangunan nasional. Di-era kemajuan teknologi inilah remaja


dituntut untuk mampu melakukan penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan, tuntutan dari lingkungan masyarakat tersebut hanya merupakan bagian penyesuaian diri yang harus dilakukan oleh remaja, disisi lain remaja juga harus melakukan penyesuaian terhadap dirinya sendiri hal ini terjadi karena adanya perubahan serta perkembangan fisik dan sekaligus psikis pada masa ini.
Pertumbuhan fisik yang terjadi pada remaja mengakibatkan remaja mengalami kebingungan mengenahi identitas dirinya, satu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologis dari perubahan fisik pada remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenahi gambaran tubuh mereka.1 Citra individual yang dikembangkan oleh remaja tidak jarang bertentangan dengan orang tua, para pendidik dan lingkungan sosial. Remaja adalah sosok individu yang sedang dalam proses perubahan dari masa anak ke dewasa. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the trouble teens).
Salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus pada era globalisasi dan modernisasi ini adalah para remaja, mereka memiliki karakteristik tersendiri yang unik: labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya. Diberbagai kota besar, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ulah remaja belakangan ini makin mengerikan dan mencemaskan masyarakat. Mereka tidak lagi sekadar terlibat dalam aktivitas nakal seperti membolos sekolah, merokok, minum-minuman keras, atau menggoda lawan jenisnya, tetapi tak jarang mereka terlibat dalam aksi tawuran layaknya preman atau terlibat dalam penggunaan NAPZA, terjerumus dalam kehidupan seksual pra-nikah, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lainnya.
Meningkatnya perilaku kenakalan remaja di kota-kota besar dapat dibuktikan dengan hasil penelitian yang ada, di Surabaya misalnya sebagian besar SMU dilaporkan pernah mengeluarkan siswanya lantaran tertangkap basah menyimpan dan menikmati benda haram tersebut. Sementara itu, di sejumlah kos-kosan, tak jarang ditemukan kasus beberapa ABG menggelar pesta putauw atau narkotika hingga ada salah satu korban tewas akibat over dosis.2 Fenomena kenakalan remaja dikota-kota besar ini searah dengan pernyataan Kartini Kartono dalam bukunya Patologi Sosial 2 bahwa di kota-kota industri dan kota besar yang cepat berkembang secara fisik, terjadi kasus kejahatan yang jauh lebih banyak daripada dalam masyarakat primitif atau didesa-desa.3
Kurang dari dasawarsa terakhir, kenakalan remaja memang semakin menunjukkan trend yang amat memperihatinkan. Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalah gunaan obat-obatan seperti narkotik (narkoba).
Fakta mengenahi semakin meningkatnya kenakalan remaja dibuktikan oleh hasil penelitian Dinas Sosial tahun 1985 yang menyatakan kurang lebih 90% korban penyalah gunaan narkotika adalah kelompok remaja.4 Pemberitaan di Republika tahun 1999 tentang pelajar yang sering menggunakan obat-obat terlarang (seperti pil BK, megadon dan ecstasy), melakukan pergaulan bebas dan mabuk-mabukan (Republika 16 April, 1999). Data yang bersumber dari BAPPENKAR, juga menunjukkan angka penyimpangan perilaku dikalangan remaja JATIM pada dasawarsa terakhir.5 Data yang dihimpun oleh BAPPENKAR tersebut diatas dipertegas kembali dengan data PMSK Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur, jumlah anak atau remaja bermasalah pada tahun 2003 mengalami peningkatan sebanyak kurang lebih 13.169 anak.6
Sampai pada tahun 2006 ini kenakalan remaja terus mengalami peningkatan, hal ini dapat kita ketahui dengan melakukan pengamatan pada perilaku remaja disekitar lingkungan kita, atau melaluhi media baik media elektronik maupun media cetak. Hampir tiap hari media cetak maupun elektronik selalu memberitakan tentang perilaku kenakalan remaja, seperti pemberitaan harian Memorandum tentang penodongan yang dilakukan oleh kelompok ABG terhadap pelajar di Lamongan,7 pemberitaan Memorandum tentang pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh remaja 18 tahun dan hasil penjualannya digunakan untuk berjudi,8 pemberitaan harian Jawa Pos tentang penjabretan HP yang dilakukan oleh dua pelajar,9 pemberitaan Radar Surabaya tentang remaja 20 tahun yang menjadi penyuplai sabu-sabu,10 pemberitaan oleh LATIVI dalam program Sorotan Utama tentang tawuran yang dilakukan oleh pelajar SMP di Jakarta,11 dan masih banyak lagi pemberitaan yang terkait dengan perilaku kenakalan remaja yang hampir tiap hari akan kita temui.
Peningkatan kenakalan remaja ini diakibatkan oleh kurangnya dukungan sosial untuk mengatasi problem-problem yang dihadapi oleh remaja. Padahal dukungan sosial tersebut merupakan pemenuhan kebutuhan psikis yang dapat menolong remaja mengurangi perasaan tertekan atau ketegangan psikis akibat ketidaksiapan remaja terhadap problem yang dihadapinya. Shapiro (1998) berpendapat bahwa remaja yang kurang mendapat pemenuhan kebutuhan psikis dari lingkungannya dapat mengakibatkan remaja tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah dan susah tidur, lebih gugup dan cenderung cemas serta lebih impulsif dan agresif.12
M. Gold dan J. Petronio mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.13 Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban mayarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat.14 B. Simanjutak memberi tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif.15 Sementara Psikolog Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai berikut: tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja, sedangkan Fuad Hasan merumuskan definisi Delinquency sebagai perilaku anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bila mana dilakukan oleh orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan.16
Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi terdahulu dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik. Dengan adanya program pendidikan tingkat dasar, menengah dan tingkat tinggi diharapkan dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tinggi. Sayangnya dalam dasawarsa terakhir kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Banyak data dan informasi tentang tingkat kenakalan remaja yang mengarah pada tindakan melanggar hukum, norma yang ada dalam masyarakat serta melanggar ajaran-ajaran agama.
Kenakalan remaja yang kian hari kian meningkat perlu mendapatkan perhatian dari semua lapisan masyarakat, baik pemerintah, LSM, guru, orang tua dan juga Mahasiswa. Al-Qur’an sendiri telah menganjurkan agar semua manusia ikut memperhatikan, memikirkan serta mencari jalan keluar terhadap problem-problem sosial yang ada dalam masyarakat termasuk kenakalan remaja, sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim ayat: 06.
يَااَيُّهَا الذِينَ ءامَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم:6)
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Qs. At-Tahrim:6).17

Hadis Rasul yang diriwatkan oleh Imam Muslim juga menjelaskan sebagai berikut:
قَالَ رَسُولُ الله ص.م: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِساَنِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَالِكَ أَضْعَفُ الاِيْمَانِ (رواه مسلم)
“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim).18

Ayat Al-Qur’an dan hadis Rasul diatas cukup memperjelas akan kewajiban kita untuk ikut bertanggung jawab terhadap problem-problem sosial yang ada dalam masyarakat termasuk kenakalan remaja, karena pada dasarnya kita semua adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab terhadap generasi bangsa. Seperti yang dijelaskan dalam hadis Nabi:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (متفق عليه)
“Setiap orang diantara kamu adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (Muttafaqalaih).19

Kepedulian Islam terhadap moralitas atau kenakalan remaja dipertegas kembali dengan hadis Rasul:
اَلمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُوْنَ مِنْ لِساَنِهِ وَيدِهِ (متفق عليه)
“Orang Islam yang sejati adalah orang, yang mana orang-orang islam lainnya selamat dari ucapan dan perbuatannya”. (HR. Buhari Muslim).20

Kenakalan remaja diartikan sebagai suatu outcome dari suatu proses yang menunjukkan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma- norma yang ada. Kenakalan remaja disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor pribadi, faktor keluarga yang merupakan lingkungan utama, maupun faktor lingkungan sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang anak.21 Lebih jelas Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja diakibatkan oleh pengabaian sosial remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan fisik dan psikologis pada fase ini. Pengabaian sosial ini terjadi karena remaja kurang memiliki kontrol diri dan cenderung meluapkan emosi-emosinya terhadap stimulus-stimulus diluar dirinya.
Ketegangan emosi tinggi, dorongan emosi sangat kuat dan tidak terkendali membuat remaja sering mudah meledak emosinya dan bertindak tidak rasional.22 Ketidak matangan emosi ini merupakan pendorong kuat bagi munculnya perilaku delinkuen, terlebih jika disertai kecemasan. Ketidak matangan emosi ini merupakan indikasi dari kualitas emosi atau kecerdasan emosi seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Goleman (1995), kecerdasan emosi adalah kecakapan emosional yang meliputi a) kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika menghadapi rintangan, b). mampu mengendalikan impuls dan tidak cepat merasa puas, c). mampu mengatur suasana hati dan mampu mengelola kecemasan agar tidak menggangu kemampuan berfikir, d). mampu berempati serta berharap.23 Artinya remaja yang memiliki kecerdasan emosional baik akan cenderung dapat menjalin hubungan intrapersonal dan interpersonal dengan baik. Kondisi kecerdasan emosi yang kurang baik mengakibatkan remaja kurang memahami orang lain, sehingga remaja cenderung berorientasi pada diri sendiri, dan cenderung menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada, Goleman, 1995 menjelaskan bahwa kecerdasan emosional yang rendah ditandai dengan ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi antar pribadi.24
Perilaku melanggar norma sosial, norma hukum, dan norma agama seperti perkelahian, pencurian, mabuk-mabukan, perampokan, penganiayaan, hubungan seks pra-nikah, dan penyalah gunaan obat-obat terlarang yang dilakukan oleh para remaja menunjukkan remaja-remaja tersebut mempunyai kecerdasan emosi yang rendah. Dikatakan mempunyai kecerdasan emosi yang rendah karena remaja-remaja tersebut tidak dapat merasakan perasaan-perasaan yang dialaminya dan mengekspresikan dengan cara yang konstruktif, tidak memiliki kemampuan menghargai dan menerima diri sendiri yang pada dasarnya baik, tidak memiliki kemampuan untuk menyadari, memahami dan menghargai perasaan orang lain serta tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif. Akibatnya mereka cenderung berperilaku yang tidak sesuai bahkan melanggar norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Kecerdasan Emosi Dengan Perilaku Delinkuen pada Remaja di Panti Rehabilitasi Sosial Marsudi Putra Adika Surabaya.

A.PERUMUSAN MASALAH
Realitas menunjukkan perilaku kenakalan remaja dalam kurun waktu kurang dari dasawarsa terakhir semakin menunjukkan trend yang sangat memperihatinkan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti membolos sekolah, keluyuran, perkelahian secara perorangan atau kelompok, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.
Kenakalan remaja diakibatkan oleh ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi positif terhadap stimuli diluar dirinya dan pada akhirnya mengarah pada perilaku agresif dan delinkuen. Kegagalan remaja dalam menjalin relasi positif terhadap stimuli diluar dirinya disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki oleh remaja.
Kecerdasan emosi merupakan derajad kemampuan untuk mengetahui apa yang diri sendiri dan orang lain rasakan termasuk cara cepat menangani masalah yang dialami oleh remaja. Remaja yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu memahami perasaan-perasaan yang dialaminya dan dapat mengekspresikan secara positif, mampu menghargai dan memahami perasaan orang lain, serta mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadipinya. Remaja yang memilik kecerdasan emosi tinggi akan dapat terhindar dari perilaku-perilaku yang melanggar norma-norma dalam masyarakat, begitu pula sebaliknya. Gottman menegaskan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu berhubungan lebih baik dengan orang lain bahkan dalam situasi-situasi sosial yang sulit sekalipun.25
Berdasar pada uraian latar belakang penelitian diatas, maka dapat diambil perumusan masalah, Apakah ada hubungan negatif yang signifikan antara Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Delinkuen pada remaja ?

B.BATASAN MASALAH
Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik dan agar penelitian lebih terarah, maka dalam penelitian ini dilakukan pembatasan istilah sebagai berikut:
1.Kenakalan remaja : Merupakan perilaku yang dilakukan oleh remaja yang tidak sesuai dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama.
2.Kecerdasan emosi : Merupakan derajat kemampuan untuk mengetahui apa yang diri sendiri dan orang lain rasakan termasuk cara tepat menangani masalah yang dialami oleh remaja.

C.TUJUAN PENELITIAN
Berdasar pada perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan negatif antara Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Delinkuen pada remaja.

D.MANFAAT PENELITIAN
1.Secara Teoritis
a.Memperoleh pengetahuan tentang hubungan antara Kecerdasan Emosi dengan perilaku delinkuen pada remaja.
b.Memberikan sumbangan yang berarti dalam menjelaskan peranan Kecerdasan Emosi dalam mengatasi perilaku delinkuen pada remaja.
2.Secara Praktis
a.Sebagai tambahan informasi faktual bagi pihak Panti Rehabilitasi Sosial Marsudi Putra Adika Surabaya dalam menetapkan kebijakan serta pembinaan dalam proses rehabilitasi dan resosialisasi remaja delinkuen.
b.Sebagai tambahan informasi faktual bagi para pendidik, orang tua, LSM dan semua pihak yang terkait dengan persoalan remaja akan pentingnya kecerdasan emosi dalam menanggulangi perilaku delinkuen pada remaja.
c.Memberikan masukan atau bahan referensi untuk kajian atau penelitian selanjutnya dibidang yang terkait dengan permasalahan ini.

F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisi tentang gambaran secara detail mengenahi penulisan skripsi dan akan menjadi dasar bagi pembahasan selanjutnya, yang terdiri dari beberapa sub bab, yaitu: Latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Bab ini berisi tinjauan teoritis mengenahi varibel-variabel penelitian, yang terdiri dari tujuh sub bab, yaitu: Penelitian terdahulu yang relevan, tinjauan teoritis mengenahi Remaja, tinjauan teoritis mengenahi perilaku delinkuen, tinjauan teoritis mengenahi kecerdasan emosi, hubungan EQ dengan perilaku delinkuen, kerangka teoritik dan hipotesis.
Sub bab B : yang membahas tinjauan teoritis remaja, terdiri dari: pengertian remaja, perkembangan fisik remaja, perkembangan psikoseksual remaja, perkembangan sosial remaja, perkembangan intelektual remaja, dan perkembangan emosi remaja.
Sub bab C : yang membahas tinjauan teoritis perilaku delinkuen, terdiri dari: pengertian perilaku delinkuen, teori-teori tentang perilaku delinkuen, jenis perilaku delinkuen, dan bentuk perilaku delinkuen.
Sub bab D : yang membahas tinjauan teoritis kecerdasan emosi, terdiri dari: pengertian emosi, pengertian kecerdasan emosi, dan aspek-aspek kecerdasan emosi.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini membahas tentang: model pendekatan dan jenis penelitian, identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik penggalian data, validitas dan reliabilitas instrument, dan teknik analisis data.
BAB IV : PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Meliputi: gambaran umum objek penelitian, persiapan penelitian, persiapan administrasi, pelaksanaan penelitian, pengukuran validitas, pengukuran reliabilitas instrumen, hasil penelitian, dan pembahasan.
BAB V : PENUTUP
Meliputi: Kesimpulan dan saran.


3 Responses to “HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU DELINKUEN-1”


  1. 1 memy
    Juni 22, 2010 pukul 11:14 am

    minta sampe penelitian dong….

  2. 2 bebe
    September 15, 2010 pukul 7:42 am

    boleh tau ga metode penelitiannya seperti apa, menggunakan alat ukur apa dan sumber2nya dari mana?
    tolong balas lewat email ya!
    trimakasih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, S.Psi,M.Psi, Psikolog Dosen Fakultas Psikologi UNTAG 1945 Surabaya------Dosen LB Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA Surabaya

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com