15
Mar
10

POLAH ASUH ORANG TUA MENENTUKAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK

Di sebuah rumah megah nan mewah, tinggal seorang anak perempuan cantik jelita bersama seorang Ibu dan Ayah yang sangat ia cintai. Sayang kedua orang tua yang sangat ia cintai jarang berada di rumah bersamanya, karena sibuk dengan pekerjaan. Begitu sibuknya kedua orangtuanya, hingga ia jarang sekali berbincang-bincang dengan Ibu atau sang Ayah, sehari-hari ia hanya tinggal dengan seorang pembantu yang tidak selalu bisa memberikan jawaban atas masalah yang dihadapinya. Suatu hari ia bertanya kepada sang Ayah, “Ayah berapa Ayah digaji oleh perusahaan tempat Ayah bekerja?”, dengan terkejut Ayah pun menjawab “Ayahmu digaji 20 ribu perjam oleh perusahaan tempat Ayahmu bekerja anakku”. Mendengar jawaban sang Ayah, ia pun kembali bertanya “Ayah bolehkah aku meminjam uang 15 ribu kepada Ayah?”, dengan terkejut sang Ayah pun menjawab “anakku kenapa kamu harus bertanya seperti itu kepada Ayah, bukankah setiap apa yang kamu minta selalu Ayah penuhi, bukankah semua mainan yang kamu inginkan selalu papa belikan, bahkan HP model terbaru yang teman-temanmu belum punya Ayah sudah belikan untukmu”. Mendengar jawaban sang Ayah, ia pun menjawab dengan suara gemetar “Ayah, bukan itu yang Aku maksud, Aku punya uang 5 ribu Ayah, Aku ingin meminjam uang 15 ribu pada Ayah, supaya Aku bisa membeli 1 jam yang Ahah miliki dan Ayah mau menemaniku di hari ulang tahunku, meskipun hanya 1 jam Ayah”. Mendengar jawaban anak gadisnya sang Ayah pun menangis, memeluk anak gadisnya dan meminta maaf. Sang Ayah baru sadar bahwa semua yang selama ini telah diberikan, tidak ada harganya jika dibandingkan dengan waktu 1 jam yang dia sempatkan untuk menemani anak gadisnya.

Remaja adalah fase yang paling sulit dalam perkembangan kehidupan manusia (para pesikolog Barat menyebut fase ini dengan sebutan “fase penuh topan dan badai”), karena pada fase ini manusia dihadapkan pada suatu kondisi yang ambiguitas. Pada aspek fisik remaja telah mengalami pertumbuhan hormon dewasa yang begitu luar biasa (dicirikan dengan pertumbuhan fisik yang telah menyerupai orang dewasa), kondisi ini membuat para remaja merasa bahwa dia sama dengan orang dewasa dan berhak melakukan perilaku-perilaku yang dilakukan oleh orang dewasa. Secara kognitif remaja juga telah berada pada fase operasional formal (menurut teori Piaget), dicirikan dengan kemampuan remaja dalam melakukan analisis terhadap informasi atau fakta di sekitar. Secara sosial remaja juga telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Sayangnya secara emosional remaja masih sangat labil, sehingga remaja kerap melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan.

Beban perkembangan yang demikian besar pada remaja ini akan membuat remaja mengalami kebingungan yang luar biasa, jika tidak mendapat dukungan dari orang tua. Orang tua harus dapat berperan sebagai sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah remajanya, membimbing dan bukan melulu menasehati dan menuntut. Orang tua harus mau memahami permasalahan yang dialami oleh remajanya dan berupaya memberikan penjelasan terhadap tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Bukan memarahi atau bahkan memukul.

Dewasa ini banyak orang tua, terutama Ayah yang hanya menuntut prestasi pada remajanya, tanpa mempedulikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para remajanya dalam mewujudkan keinginan orang tuanya. Banyak para Ayah yang memukul atau memarahi remajanya karena mendapat nilai jelek. Orang tua berpikir bahwa dengan dimarahi maka remajanya akan menjadi baik. Sayangnya orang tua yang suka marah dan apalagi memukul, justru akan membuat para remajanya tidak betah di rumah. Santrock John W. dalam bukunya “Perkembangan Masa Hidup” memberikan penjelasan, ketika remaja tidak betah dengan kondisi rumah (sikap orang tua yang selalu mencelah bukan memotivasi) maka selanjutnya remaja akan mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Sayangnya lagi, remaja lebih banyak mencari kelompok-kelompok yang secara psikologis memiliki permasalahan yang sama dengan dirinya (tidak betah di rumah). Dari kelompok tersebut kemudian sering muncul perilaku-perilaku yang melanggar aturan, seperti berkelahi, mencuri, membolos dan perilaku-perilaku negatif lainnya.

Pengalaman saya di lapangan sebagai guru Bimbingan Konseling & Konselor Remaja, menunjukkan bahwa kenakalan remaja lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya kepedulian orang tua terhadap remajanya. Banyak orang tua yang menuntut anaknya berprestasi, sementara mereka tidak pernah menyempatkan waktu untuk berkomunikasi. Apalagi membantu remajanya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang secara psikologis mengganggu dapat prestasi belajaranya. Ilustrasi di atas adalah kenyataan yang sering dialami oleh para remaja.

Akhirnya untuk para orang tua….Ayo pahami para remaja, dukung, kasih solusi…jangan hanya bisa marah dan menuntut……

Baca buku-buku di bawah ini untuk membantu memahami para remaja;

Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.

Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.

Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Mulyono., Y. Bambang, 1995, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, Yogyakarta:Kanisius.

Sarwono., Sarlito Wirawan, 2001, Psikologi Remaja, Jakarta:Radja Grafindo Persada.


1 Tanggapan ke “POLAH ASUH ORANG TUA MENENTUKAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK”


  1. Maret 21, 2010 pukul 12:54 am

    terima kasih. Permasalahan dalam pola asuh orang tua memang sangat menentukan. tetapi yang sekarang jadi permasalahan adalah bukan hanya masalah-masalah yang dihadapi orang tua mis. anak nakal; anak tidak berbakti atau lainnya, kadang orang tua mengetahui kenakalan anaknya setelah anak itu sudah terlanjur nakal, pada awal perkembangan banyak orang tua yang menganggap bahwa kenakalan anaknya masih wajar, mereka tidak menyadari bahwa sikap seperti itu justru memupuk karakter anak. Nah sekarang yang penting bagi orang tua adalah bagaimana menyelesaikan permasalahan anaknya, jalan apa yang harus ditempuhnya, dan solusi apa yang terbaik. Banyak orang tua yang sudah mengetahui permasalahan anaknya tetapi karena tuntutan ekonomi dijadikan alasan mereka untuk tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, padahal intinya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mereka mengasuh anaknya dengan benar.Untuk itu mungkin ada cara atau kiat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pada anak kita. Wallohu ‘alam.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, M.Psi, Psikolog Lahir di Lamongan 16 Maret 1983. Kegiatan sehari hari sebagai Dosen di Prodi Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Guru BK SMP Ta'miriyah Surabaya, Terapis untuk Anak Berkebutuhan Khusus dan sekaligus Trainer For Terapis Autis di Quantum Special Need Training Center Surabaya. MONGGO SILAHKAN BACA TULISAN-TULISAN TERBARU SAYA DI http://www.suhadianto.co.cc

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

SocialVibe



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.