02
Nov
08

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU DELINKUEN PADA REMAJA-2

A.TINJAUAN PUSTAKA
1.PERILAKU DELINKUEN PADA REMAJA
a.Pengertian Remaja
Ada beberapa definisi mengenahi remaja, Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan mendefinisikan masa remaja sebagai masa penuh kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat.1 Zakiah Darajad mendefinisikan remaja adalah masa peralihan, yang

ditempuh oleh seseorang dari anak-anak menuju dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa.1 Zakiah Darajad dalam bukunya yang lain mendefinisikan remaja sebagai tahap umur yang datang setelah masa anak-anak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik yang cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja.2 Hasan Bisri dalam bukunya Remaja Berkualitas, mengartikan remaja adalah mereka yang telah meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa pembentukan tanggung jawab.3
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, karena pada masa ini remaja telah mengalami perkembangan fisik maupun psikis yang sangat pesat, dimana secara fisik remaja telah menyamai orang dewasa, tetapi secara psikologis mereka belum matang sebagaimana yang dikemukakan oleh Calon (1953) masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan karena remaja belum memiliki status dewasa tetapi tidak lagi memiliki status anak-anak.4 Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawah akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja.
Lebih jelas pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja secara lebih konseptual, sebagai berikut:5
Remaja adalah suatu masa dimana:
1)Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2)Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3)Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Jelasnya remaja adalah suatu periode dengan permulaan dan masa perlangsungan yang beragam, yang menandai berakhirnya masa anak dan merupakan masa diletakkannya dasar-dasar menuju taraf kematangan. Perkembangan tersebut meliputi dimensi biologik, psikologik dan sosiologik yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Secara biologik ditandai dengan percepatan pertumbuhan tulang, secara psikologik ditandai dengan akhir perkembangan kognitif dan pemantapan perkembangan kepribadian. Secara sosiologik ditandai dengan intensifnya persiapan dalam menyongsong peranannya kelak sebagai seorang dewasa muda.
Mengenahi umur masa remaja, ahli-ahli ilmu jiwa tidak mempunyai kata sepakat tentang batasan umur yang jelas dan dapat disetujui bersama sebab dalam kenyataannya konsep remaja ini baru mulai muncul pada abad ke-20. Menurut Powel, masa remaja digolongkan: “Pre adolescence, from ten to twelve years; early adolescence from thirteen to sixteen, and late adolescence, from seventeen to twenty one years.6 Leulla Cole menyebutkan masa adolescence dan membagi menjadi tiga tingkata, yaitu: “early adolescence 13 to 15 years, middle adolescence 16 to 18 years, late adolescence 19 to 21.7 Sedang WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja.8
Kaplan & Sadock dalam bukunya Sinopsis Psikiatri, menyebutkan fase remaja terdiri atas remaja awal (11-14 tahun), remaja pertengahan (14-17 tahun), dan remaja akhir (17-20) tahun. Sementara F.J. Monks berpendapat bahwa secara global masa remaja berlangsung antara 12 – 21 tahun, dengan pembagian 12 – 15 tahun: masa remaja awal, 15 – 18 tahun: masa remaja pertengahan, 18 – 21 tahun masa remaja akhir. 9 yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1
Penggolongan Usia Remaja
pra-remaja remaja awal remaja pertengahan remaja akhir

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

pra-pubertas pubertas
Adolesen
Sumber: F.J. Monks, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta:Gadjah Mada Press, 2002), hal. 262

dari beberapa pendapat diatas dapat dibuat suatu batasan usia remaja adalah dimulai dari umur 10 – 21 tahun.
a.Perkembangan Fisik Remaja
Perkembangan fisik dalam periode masa remaja meliputi segi pertambahan tinggi dan berat badan. Untuk remaja pria dimulai sekitar umur 10,5 sampai 16 tahun sedang remaja putri percepatan pertumbuhan sudah mulai antara umur 7,5 tahun dan 11,5 tahun dengan umur rata-rata 10,5 tahun, selain mengalami percepatan tinggi badan dan berat badan, remaja juga mengalami proses kematangan seksual, sebagai berikut:10
1)Karakteristik kelamin primer:
Pada remaja pria:
a)Pengeluaran sperma.
b)Menegangnya alat kelamin pada saat-saat tertentu.
Pada remaja putri:
a)Loncatan sel telur (ovulasi)
b)Menstruasi (pengeluaran sel telur yang tak dibuahi dengan lendir dan darah).
2)Karakteristik kelamin skunder:
Pada remaja pria:
a)Tubuh menjadi lebih jantan.
b)Suara menjadi besar dan pecah
c)Tumbuhnya bulu-bulu atau rambut pada bagian tubuh tertentu
d)Bentuk wajah nampak persegi
Pada remaja putri
a)Mulai nampak bentuk kewanitaannya, seperti perkembangan buah dada dan montoknya anggota-anggota badan.
b)Wajah nampak membulat.11
Pendapat mengenahi perkembangan fisik remaja diatas searah dengan pendapat John W. Santrock dalam bukunya Life Span Development yang menyatakan bahwa empat perubahan tubuh yang paling menonjol pada perempuan adalah pertumbuhan tinggi badan yang cepat, menarche, pertumbuhan buah dada, dan pertumbuhan rambut kelamin, sedang pada pria adalah pertumbuhan tinggi badan yang cepat, pertumbuhan penis, pertumbuhan testis dan rambut kemaluan.12 Pertumbuhan fisik remaja selanjutnya akan berdampak pada perilaku sosial, seksual, emosi serta kognitif remaja. Dengan pertumbuhan fisik yang terjadi remaja merasa bahwa dirinya adalah orang dewasa sehingga remaja akan mengembangkan citra individual mengenahi diri mereka yang tidak jarang berbenturan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh orang dewasa.
b.Perkembangan Psikoseksual Remaja
Seiring dengan pertumbuhan fisik dan organ-organ seks yang terjadi pada remaja, matang pulalah kelenjar-kelenjar kelamin pada diri remaja hal ini menimbulkan adanya desakan-desakan baru yang ada pada diri remaja, berupa desakan-desakan untuk melakukan hubungan seksual. Perubahan Psikoseksual sendiri ditandai dengan timbulnya perubahan seksual, seperti mulai bisa merasakan rangsangan seksual, timbulnya pikiran seksual, seperti keinginan untuk berfantasi seksual, dan timbul dorongan untuk melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis.
Freud menyebut masa remaja sebagai fase genital, yaitu energi libido atau seksual yang pada masa pra remaja bersifat laten kini hidup kembali. Dorongan seks dicetuskan oleh hormon-hormon androgen tertentu seperti testosteron yang selama masa remaja ini kadarnya meningkat. Tidak jarang mereka melakukan masturbasi sebagai cara yang aman untuk memuaskan dorongan seksualnya, kadang-kadang mereka melakukan sublimasi terhadap dorongan seksualnya kearah aktifitas yang lebih bisa diterima, misalnya kearah sastra, psikologi, olah raga atau kerja sukarela, sistem sosial yang memadai sering membantu remaja menemukan cara-cara yang dapat menyalurkan energi seksualnya pada aktivitas atau peran yang lebih bisa diterima.13
Salah satu pendapat Aristoteles tentang sifat remaja yang sampai saat ini masih juga dianggap benar adalah pernyataannya tentang kuatnya hasrat seksual pada fase ini, dengan gamblang dia mengungkapkan:
Orang-orang muda punya hasrat-hasrat yang sangat kuat dan mereka cenderung untuk memenuhi hasrat-hasrat itu semuanya tanpa membeda-bedakannya dari hasrat yang ada pada tubuh mereka, hasrat seksuallah yang paling mendesak dan dalam hal inilah mereka menunjukkan hilangnya kontrol diri.14

Pendapat Aristoteles diatas diperkuat dengan pendapat Kaplan & Sadock (1988), menurutnya pada fase remaja pertengahan berdasarkan literatur barat perilaku dan pengalaman seksual sudah menjadi kelaziman. Dari waktu-kewaktu mereka makin dini melakukan aktivitas seksual (rata-rata telah melakukan pada usia 16 tahun). Baru pada masa remaja akhir mereka mulai ada perhatian terhadap rasa kasih sayang sesama manusia, moral, etika, agama, dan mereka mulai memikirkan masalah-masalah dunia.15 Jelasnya citra tubuh, minat berkencan, dan perilaku seksual pada remaja sangat dipengaruhi oleh perubahan pada masa pubertas, yaitu suatu periode dimana kematangan kerangkan dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja.
c.Perkembangan Sosial Remaja
Dalam masa perkembangan ini, seorang remaja mulai tergugah rasa sosial untuk ingin bergabung dengan anggota-anggota kelompok yang lain. Pergaulannya yang dulu terbatas dengan keluarga, tetangga dan teman-teman sekolah; saat ini dia ingin lebih meluaskan pergaulannya sehingga tidak jarang mereka meninggalkan rumah. Menurut Otto Rank, pada diri remaja terjadi perubahan yang sangat drastis, yaitu dari keadaan tergantung pada orang lain (dependence) pada masa kanak-kanak menuju kepada keadaan mandiri (independence) pada masa dewasa. Tahap-tahap perubahan itu adalah sebagai berikut:16
1)Pembebasan kehendak dari kekuatan-kekuatan dari dalam sendiri maupun dari lingkungannya (misalnya dari orang tuanya yang selama ini mendominasinya).
2)Pemilahan kepribadian (division in personality). Dalam tahap ini terjadi perpecahan (discunity) antara kehendak (will) dan kontrak kehendak (counter will). Terjadilah perjuangan moral antara dorongan-dorongan neurotik (kecenderungan untuk tetap tertekan) dengan dorongan-dorongan kreatif (kecenderungan untuk mencipta, mengatur). Akibat dari konflik moral itu timbullah perasaan bersalah, menyesali dan menyalahkan diri sendiri (self criticism) dan perasaan rendah diri. Kalau proses ini berkepanjangan remaja yang bersangkutan akan terlibat dalam gejala neurotik, tetapi kalau ia bisa mengatasi tahap ini dengan baik, remaja yang bersangkutan akan masuk ketahap berikutnya dimana ia akan menjadi manusia yang produktif kreatif.
3)Integrasi antara kehendak dan kontrak-kehendak menjadi pribadi yang harmonis.
Tahapan perkembangan dan konflik yang dikemumakan oleh Erikson menyebut fase remaja ini sebagai fase identitas lawan kekaburan peran (role diffusion)17. Individu pada tahap ini sudah ingin menonjolkan identitas dirinya, akan tetapi ia masih terperangkap oleh masih kaburnya peran dia dalam lingkungan asalnya. Kaburnya peran remaja dalam lingkungannya mengakibatkan remaja mulai membentuk kelompok-kelompok atau dalam bahasa Kartini Kartono disebut sebagai gang. Penggabungan diri dengan anggota kelompok yang lain sebenarnya merupakan usaha mencari nilai-nilai baru dan ingin berjuang mencari nilai-nilai baru dan ingin berjuang mencapai nilai-nilai itu, sebab remaja mulai meragukan kewibawaan dan kebijaksanaan orang tua, norma-norma yang ada dan sebagainya.18
d.Perkembangan Intelektual Remaja
Selain mengalami perkembangan fisik, seksual dan sosial pada masa ini remaja juga mengalami perkembangan pemikiran, pemikiran remaja berubah menjadi lebih abstrak, logis dan idealis. Artinya remaja tidak akan percaya begitu saja terhadap apa yang dikatakan oleh orang tua tanpa tahu sebab dan alasan, remaja mulai berfikir layaknya para intelektual dimana semua serba rasional, dan remaja juga mulai berfikir tentang citra diri mereka. Pemikiran remaja lebih bersifat egosentris.19 Dimana remaja mempunyai keyakinan bahwa orang lain akan memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dirinya sendiri.
Remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau menerima begitu saja perintah-perintah atau aturan-aturan yang ada; mereka ingin juga mengetahui alasan dan sebab-sebabnya. Tidak jarang dengan perkembangan intelektualnya yang bersifat kritis ini, remaja mengalami konflik atau pertentangan dengan pihak orang tua atau pendidik-pendidik yang biasanya berpegang akan nilai-nilai lama.20 Piaget menyebutnya dengan operasional formal. Piaget yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara 11 – 15.21

e.Perkembangan Emosi Remaja
Emosi remaja berada dalam situasi sturm und drung sebab belum stabil dan mencapai kematangan pribadi secara dewasa. Menurut Gesell, dkk, remaja 14 tahun seringkali mudah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung meledak, dan tidak berusaha mengendalikan perasaannya22 karena emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka dari pada perilaku yang realistis.
Mereka merasa canggung akan pertambahan tinggi badan yang dirasa aneh dan mengganggu, mudah tersinggung kesal hati, dan tertekan, ingin marah. Dalam keadaan emosi yang belum stabil ini celaan atau kritikan dari lingkungan seringkali ditanggapi secara sungguh-sungguh dan sering ditafsirkan sebagai ejekan atau meremehkannya. Akibatnya mereka sering bersikap antipati dan melawan. Bila lingkungan keluarga, orang tua dan sekolah mengabaikan keadaan emosi remaja, misalnya anak-anak yang tidak disukai karena tampangnya kurang menguntungkan, kurang cerdas, sehingga melihat dengan sebelah mata dan sinis, biasanya remaja tersebut menjurus pada perilaku yang maldjusment dan sering pada tindakan delinkuency.23
Remaja merupakan masa kritis bagi pembentukan kepribadian. Remaja yang sedang dalam masa pancaroba ini apabila tidak mendapat bimbingan serta suasana lingkungan yang baik dapat menjurus pada berbagai kelainan tingkah laku, kenakalan, bahkan sampai melibatkan diri pada tindak kejahatan, termasuk penyalah gunaan obat narkotika serta perilaku seksual.
f.Pengertian Perilaku Delinkuen
Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.24 Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat.25 B. Simanjutak memberi tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normatif.26 Psikolog Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja.27 Fuad Hasan merumuskan definisi Delinquency sebagai perilaku anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bila mana dilakukan oleh orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan.28
John W. Santrock mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).29 Menurut Kartini Kartono, Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang.30
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku yang dilakukan oleh remaja yang bertentangan dengan norma hukum yang telah dengan jelas ditentukan dalam KUHP, norma sosial dan norma agama yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
g.Teori-Teori Tentang Perilaku Delinkuen
Ada beberapa teori yang membahas mengenahi sebab-sebab terjadinya perilaku kenakalan remaja yang pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: teori yang mendasarkan pada pandangan bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dipelopori oleh John Locke dan teori yang mendasarkan pada pandangan bahwa manusia lahir telah membawa potensi-potensi psikis yang biasa disebut dengan aliran nativisme.
1)Teori Biologis
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku sosiopatik atau delinkuen pada anak-anak dan remaja dapat muncul karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang, juga dapat oleh cacat jasmaniah seseorang, dan juga dapat oleh cacat jasmaniah yang dibawa sejak lahir. Kejadian ini berlangsung:31
a)Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, atau melalui kombinasi gen; dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen-gen tertentu, yang semuanya bisa memunculkan penyimpangan perilaku, dan anak-anak menjadi delinkuen secara potensial.
b)Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal), sehingga membuahkan tingkah laku delinkuen.
c)Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu yang menimbulkan perilaku delinkuen atau sosiopatik. Misalnya cacat jasmaniah bawaan bracydactylisme (berjari-jari pendek) dan diabetes mellitus (sejenis penyakit gula) itu erat berkorelasi dengan sifat-sifat kriminal serta penyakit mental.
Lebih jelas Jensen (1985) yang dikutip oleh Sarlito Wirawan Sarwono, menurutnya teori psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh kelainan fisik atau genetik.32 Searah dengan Jensen, Sheldon dalam teori konstitusinya beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Sheldon menjelaskan bahwa ada sejenis struktur biologis hipotesis (morfogenotipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati (fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam menentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam membentuk tingkah laku.33
2)Teori Psikogenis
Teori ini menekankan sebab-sebab perilaku delinkuen dari aspek psikologis. Antara lain faktor inteligensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang kontroversial, kecenderungan psikopatologis dan lain-lain. Menurut Sigmund Freud, sebab-sebab kejahatan dan keabnormalan adalah karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa (Id, Ego, Superego) sehingga menimbulkan hilangnya keseimbangan dalam pribadi tersebut. Ketidak seimbangan itu menjurus pada perbuatan kriminal sebab fungsi Ego untuk mengatur dan memcahkan persoalan secara logis menjadi lemah.34 Argumen sentral dari teori ini adalah sebagai berikut: delinkuen merupakan bentuk penyelesaian atau kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal atau sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis.35
3)Teori Sosiogenis
Teori sosiogenis yaitu teori-teori yang mencoba mencari sumber-sumber penyebab kenakalan remaja pada faktor lingkungan keluarga dan masyarakat. Termasuk dalam teori sosiogenis ini adalah teori Broken Home dari Mc. Cord, dkk (1959) dan teori “penyalah gunaan anak” dari Shanok (1981).36 Sutherland menyatakan bahwa anak dan para remaja menjadi delinkuen disebabkan oleh partisipasinya ditengah-tengah suatu lingkungan sosial, yang ide dan teknik delinkuen tertentu dijadikan sarana yang efesien untuk mengatasi kesulitan hidupnya.37 Healy dan Bronner sarjana Ilmu sosial dari Universitas Chicago yang banyak mendalami sebab-sebab sosiogenis kenakalan remaja sangat terkesan oleh kekuatan kultural dan disorganisasi sosial dikota-kota yang berkembang pesat, dan banyak membuahkan perilaku delinkuen pada anak, remaja serta pola kriminal pada orang dewasa.38 Argumen sentral dari teori ini menyatakan bahwa perilaku delinkuen pada dasarnya disebabkan oleh stimulus-stimulus yang ada diluar individu.

h.Jenis Perilaku Delinkuen
Berdasar pada beberapa pandangan teori mengenahi perilaku delinkuen diatas, maka delinkuensi remaja dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu:39
1)Delinkuensi individual, yaitu perilaku delinkuen anak merupakan gejalah personal atau individual dengan ciri-ciri khas jahat, disebabkan oleh predisposisi dan kecenderungan penyimpangan tingkah laku (psikopat, psokotis, neurotis, a-sosial) yang diperhebat oleh stimuli sosial dan kondisi kultural.
2)Delinkuensi situasional, yaitu delinkuensi yang dilakukan oleh anak yang normal; namun mereka banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan situasional, stimuli sosial, dan tekanan lingkungan, yang semuanya memberikan pengaruh “menekan-memaksa” pada pembentukan perilaku buruk.
3)Delinkuensi sistematik, yaitu delinkuensi yang telah disistematisir dalam suatu organisasi (gang). Semua kejahatn dirasionalisir dan dibenarkan sendiri oleh anggota gang, sehingga kejahatannya menjadi terorganisir atau menjadi sistematis sifatnya.
4)Delinkuensi kumulatif, yaitu delinkuensi yang sudah teresebar dihampir semua ibukota, kota-kota, bahkan sampai dipinggiran desa. Pada hakekatnya delinkuensi inimerupakan produk dari konflik budaya.
Hampir sama dengan pembagian jenis perilaku delinkuen diatas, Dadang Hawari & Marianti Soewandi dalam bukunya Remaja dan Permasalahannya membagi remaja yang melakukan perilaku delinkuen dalam tiga kategori, yaitu:40
1)Mereka yang berbuat nakal, disebabkan oleh karena memang kepribadiannya sudah “cacad” (psychopatic personality), sebagai akibat “deprivasi emosional” semasa kecilnya.
2)Mereka yang hanya ikut-ikutan, karena kebetulan sedang menginjak masa remaja. Sedangkan pada dasarnya anak itu sendiri baik (pengaruh lingkungan yang kurang baik).
3)Mereka yang nakal sebagai akibat suatu penyakit syaraf yang dideritanya, misalnya penyakit “ayan” atau “epilepsi”.
Ernest R. Hilgard dalam bukunya “Introduction to Psychologi” mengelompokkan delinkuensi remaja dilihat dari pelaku perilaku tersebut kedalam dua golongan, yaitu:41
1)Social delinquency, yaitu delinkuen yang dilakukan oleh sekelompok remaja, misalnya “gang”.
2)Individual delinquency, yaitu delikuensi yang dilakukan oleh seorang remaja sendiri tanpa teman.

Wright membagi jenis kenakalan remaja dalam beberapa keadaan:42
1)Neurotic delinquency, remaja bersifat pemalu, terlalu perasa, suka menyendiri, gelisa dan mempunyai perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan yang kuat untuk berbuat suatu kenakalan seperti: mencuri sendirian, melakukan tindakan agresif secara tiba tanpa alasan karena dikuasai oleh fantasinya sendiri.
2)Unsocialized delinquency, suatu sikap yang suka melawan kekuasaan seseorang, rasa bermusuhan dan pendendam.
3)Pseudo social delinquency, remaja atau pemuda yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap kelompok atau gang sehingga sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanan yang baik. Jika melakukan perilaku kenakalan bukan atas kesadaran diri sendiri yang baik tetapi karena didasari anggapan bahwa ia harus melaksanakan sesuatu kewajiban kelompok yang digariskan.
Jensen (1985) yang melihat perilaku delinkuen dari sigi bentuk dan dampak kenakalan, menggolongkan perilaku delinkuen dalam empat jenis, yaitu:43
1)Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.
2)Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
3)Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban difihak orang lain: pelacuran, penyalah gunaan obat, hubungan seks pra-nikah.
4)Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.
i.Bentuk-Bentuk Perilaku Delinkuen
William C. Kvaraceus membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu:44
1)Kenakalan biasa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.
2)Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.

j.Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Delinkuen
Pada dasarnya faktor-faktor penyebab perilaku kenakalan remaja terdiri atas akumulasi berbagai macam faktor, baik internal maupun eksternal, seperti: pola asuh orang tua, lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan sosial.
1)Faktor internal.
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa:45
a)Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.
b)Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.
c)Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh:46
a)Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
b)Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
c)Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
d)Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983).47
Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat.48
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2.
faktor-faktor internal penyebab perilaku delinkuen
1). Reaksi frustrasi negatif
2). Gangguan pengamatan dan tanggapan
Faktor internal
3). Gangguan cara berfikir
4). Gangguan emosional atau perasaan

Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 120.

2)Faktor Eksternal
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti:49
a)Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
b)Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
c)Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
d)Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku delinkuen diatas dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar: 2.3.
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku delinkuen
1.1. Broken home
1.2. Perlindungan lebih
1). Faktor keluarga
1.3. Penolakan orang tua
Faktor eksternal 1.4. Pengaruh buruk dari
orang tua
2). Faktor sekolah
3). Milieu

Sumber: Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada,1998), cet 3, hal. 126.

Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja.50 Semisal: overproteksi dari orang tua, rejected child, dll. Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitin Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia.51
Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah ‘a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present’ (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya:52
a)Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
b)Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.
c)Proses mempelajari perilaku biasanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini biasanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.
d)Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
e)Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum.

Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan psikologis anak digambarkan oleh Hasbullah M. Saad dalam bukunya Perkelahian Pelajar53 seperti dibawah ini:
Gambar:2.4.
Model umum pengaruh kondisi lingkungan terhadap
Perkembangan psikologis anak
Lingkungan makro
Karakter anak
Atensi

Karakter keluarga Interaksi antar perhatian ibu dengan anak
Mainutris

Perkembangan psikologis

Sumber: Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar: Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003), hal. 32.

k.Perbedaan Perilaku Delinkuen Antara Remaja Laki-laki dengan Remaja Perempuan
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa dimana pada fase ini remaja mengalami perkembangan fisik, psikologis, sosial, psikoseksual dan perkembangan emosi yang kesemuanya akan berpengaruh terhadap perilaku remaja. Perkembangan yang terjadi baik pada remaja laki-laki maupun remaja perempuan membuat mereka merasa canggung dan bingung terhadap apa yang dialaminya dan jika hal ini tidak mendapat dukungan dari lingkungan sosial maka mereka akan cenderung mencari kompensasi dari tekanan-tekanan tersebut kearah perilaku yang destruktif atau delinkuen. Paul W. Tappan menegaskan kenakalan anak dapat dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun oleh anak perempuan sekalipun dalam prakteknya jumlah anak laki-laki yang berperilaku delinkuen lebih banyak dari perempuan.54
Menurut hasil penelitian yang ada intensitas kenakalan remaja laki-laki dan remaja perempuan tidak begitu berbeda bahkan pada bentuk perilaku tertentu remaja perempuan diketahui lebih unggul, perbedaan perilaku kenakalan antara remaja laki-laki dan remaja perempuan hanyalah teletak pada bentuk-bentuk kenakalannya saja. Paul W Tappan mengemukanan bahwa perbuatan melarikan diri dari rumah, mencuri, sikap membandel, melanggar lalu lintas dijalan, bergelandangan, dan penggelapan lebih banyak dilakukan oleh anak laki-laki. Sedangkan perbuatan-perbuatan seperti: pelanggaran terhadap ketertiban umum, pelanggaran kesusilaaan mislanya: melakukan persetubuhan diluar perkawinan sebagai akibat pergaulan bebas banyak dilakukan oleh anak perempuan.55
Dari penjelasan Paul W. Tappan diatas telah cukup jelas bahwa perbedaan kenakalan antara remaja laki-laki dan perempuan hanya terletak pada bentuknya saja. Pada kasus perilaku seksual diluar nikah menurut penelitian Darling, Kallon & Van Duesen (1984) jumlah kasus perilaku seks diluar nikah antara remaja putra dengan dengan remaja putri pada tahun 1970 sampai dengan 1980-an adalah seimbang bahkan dalam hal berkencan menurut Duck (1975) remaja perempuan memiliki keinginan yang lebih kuat untuk penjajakan keintiman dan kepribadian dalam berkencan dari pada remaja laki-laki.56
Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan juga menjelaskan bahwa sepanjang masa remaja anak perempuan lebih menyukai pesta dari pada anak laki-laki, remaja perempuan bersama teman-teman sejenis jarang minum-minuman keras dibandingkan dengan remaja laki-laki, dan remaja laki-laki lebih sering pergi dari rumah dibanding remaja perempuan57.

2.KECERDASAN EMOSI
a.Emosi
Sudah lama diketahui bahwa emosi merupakan salah satu aspek berpengaruh besar terhadap perilaku manusia. Bersamaan dengan dua aspek yang lainnya, yakni kognitif (daya pikir), dan konatif (psikomotorik). Emosi atau yang biasa disebut aspek afektif, merupakan salah satu penentu perilaku manusia, seseorang mau tersenyum, tertawa atau bahkan bertindak agresif dan berperilaku delinkuen kesemuanya akan tergantung pada emosi. Walaupun emosi sangat berperan dalam perilaku manusia, tetapi tidak banyak yang mempermasalahkan aspek emosi hingga muncul Daniel Goleman yang mengangkat emosi sebagai topik utama dalam bukunya.
Kecerdasan emosi bukan konsep baru dalam dunia Psikologi, lama sebelum Goleman, E.L Thorndike pada tahun 1920 sudah mengungkap apa yang disebutnya sebagai social intellgence, yaitu suatu kemampuan untuk menghadapi orang lain disekitar diri sendiri dengan cara yang efektif.58 Thorndike percaya bahwa kecerdasan sosial merupakan syarat penting dari keberhasilan seseorang diberbagai aspek kehidupan.
Ada beberapa definisi emosi, C.P. Chaplin dalam Kamus Psikologi mendefiniskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku.59 Sementara J.P. Du Prezz, seorang EQ Organizational consultant dan pengajar senior di Potchefstroom University, Afrika Selatan. Secara tegas dia menegaskan emosi adalah suatu reaksi tubuh menghadapi situasi tertentu.60
Dari dua definisi diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan, emosi adalah rekasi tubuh ketika menerima stimuli dari luar mencakup perubahan-perubahan yang disadari, sifatnya mendalam dan perubahan perilaku. Emosilah yang seringkali memunculkan perilaku delinkuen pada remaja, ada perasaan takut dengan apa yang terjadi, ada perasaan cemas, ada rasa kawatir, ada pula rasa marah yang diakibatkan oleh stimuli dari luar dirinya.
Tantangan terbesar bagi remaja saat ini adalah globalisa dan modernisasi lengkap dengan teknologinya, dimana selain mempunyai dampak positif, dampak negatif globalisasi serta modernisasi juga tidak kalah besar. Seperti yang telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya bahwa menurut hasil penelitian dikota-kota industri dan kota-kota besar perilaku delinkuen lebih banyak terjadi dari pada di desa-desa.
Kondisi lingkungan seperti ini menuntut keterampilan remaja dalam berhubungan sosial dengan orang lain. Efektifitas manusia bergelut (dealing with) dengan lingkungan dipengaruhi oleh kecakapan dan kemampuan manusia itu mengelolah situasi kehidupannya.61 Apabila seseorang gagal dalam menumbuhkan hubungan antar pribadi atau interpersonal relationchips yang baik, termasuk dengan orang tuanya sendiri, maka dia akan mengalami keadaan senang berhayal, sakit fisik dan mental, agresi dan lari dari kenyataan hidup.62
b.Kecerdasan Emosi
Goleman (1995) mendefiniskan kecerdasan emosi adalah kecakapan emosional yang meliputi: a) kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika menghadapi rintangan, b). mampu mengendalikan impuls dan tidak cepat merasa puas, c). mampu mengatur suasana hati dan mampu mengelolah kecemasan agar tidak menggangu kemampuan berfikir, d). mampu berempati serta berharap.63 Menurut Robert K. Cooper kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dam secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, koneksi, informasi dan pengaruh yang manusiawi.64 Sedang Napoleon Hills menamakan EQ sebagai kekuatan berfikir alam bawah sadar yang berfungsi sebagai tali kendali atau pendorong.65
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan, kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri sendiri dan mewujudkannya dalam perilaku yang konstruktif serta kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Berbeda dengan pandangan masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaliknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif.
c. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosi
Menurut Reuven Bar-On (1996) kecerdasan emosi dibagi menjadi empat bagian:66
a.Intrapersonal
1)Kesadaran diri emosional (emotional self-awareness): kemampuan untuk mengenali perasaan diri. Memperjuangkan hak dan dengan terbuka mengekspresikan pikiran, keyakinan dan persaan dengan cara yang tidak destruktif.
2)Self- regard: Kemampuan untuk menghargai dan menerima diri sendiri yang pada dasarnya baik.
3)Aktualisasi diri: Kemampuan untuk menyadari kemampuan potensial yang dimiliki dengan cara melibatkan diri agar dapat menjalani hidup yang berarti, penuh dan kaya.
4)Kemandirian: kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berfikir dan bertindak, serta bebas dari ketergantungan emosional.
b.Interpersonal:
a)Empati: Kemampuan untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan orang lain.
b)Hubungan interpersonal: Kemampuan untuk membangun dan membina hubungan yang sama-sama memuaskan yang tampak dari keintiman serta pemberian dan penerimaan afeksi.
c)Tanggung jawab sosial: Kemampuan untuk menampilkan diri sebagai anggota kelompok sosial yang kooperatif, kontributif dan konstruktif.
c.Orientasi kognitif
a)Kemampuan memecahkan masalah (problem solving): kemampuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah serta dapat memunculkan dan menerapkan solusi yang efektif.
b)Menguji kenyataan (reality testing): kemampuan untuk melihat hubungan antara apa yang dialami dengan apa yang ada secara objektif.
c)Fleksibilitas: kemampuan untuk mengatur pikiran, emosi dan perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi yang berubah-ubah.
d)Mengatasi stres: kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi peristiwa yang sulit dan situasi yang menekan tanpa menjadi rapuh dengan menghadapi stres tersebut dengan aktif dan positif.
e)Mengendalikan impuls: kemampuan untuk menahan atau menghambat impuls, dorongan atau godaan untuk melakukan tindakan.
d.Afeksi:
a)Kebahagiaan: kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan yang dialami, menyenangi diri sendiri dan orang lain serta bisa bersenang senang.
b)Optimisme: kemampuan untuk melihat sisi positif dari kehidupan dan bisa menjaga sifat yang positif walau menghadapi situasi yang buruk.

3.HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU DELINKUEN
Kenakalan remaja diakibatkan oleh pengabaian sosial remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan fisik dan psikologis pada fase ini. Pengabaian sosial ini terjadi karena remaja kurang memiliki kontrol diri dan cenderung meluapkan emosi-emosinya terhadap stimulus-stimulus diluar dirinya. Ketegangan emosi tinggi, dorongan emosi sangat kuat dan tidak terkendali membuat remaja sering mudah meledak emosinya dan bertindak tidak rasional.67 Goleman, 1995 menjelaskan bahwa kecerdasan emosional yang rendah ditandai dengan ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi antar pribadi.68
Lebih jelas Jeanne Segal dalam bukunya Melejitkan Kepekaan Emosi mengatakan, wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi; EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial…. Dengan EQ tinggi anda mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam ketika perasaan-perasaan ini muncul, dan benar-benar dapat mengenali diri anda sendiri. Dengan menjaga jalur komunikasi tetap terbuka lebar antara amigdala dengan neokorteks, ini dapat menunjukkan anda bela rasa, empati, penyesuaian diri dan kendali diri.69
Dari pendapat Goleman dan Jeanne Segal diatas telah cukup jelas bahwa perilaku delinkuen pada dasarnya disebabkan oleh ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi yang positif terhadap stimuli diluar dirinya yang pada akhirnya akan mengarah pada perikau agresif dan delinkuen. Pendapat Goleman dan Jeanne Segal diatas senada dengan gagasan teori Psikogenis yang menyatakan perilaku delinkuen adaalah merupakan bentuk penyelesaian atau kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal atau sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis.70 Selanjutnya Brooks & Emmert merinci bahwa dalam suatu hubungan yang positif sekurang-kurangnya dijumpai unsur-unsur afeksi, penerimaan, cinta dan rasa bahagia karena ada bersama orang lain.71 Kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif, misalnya: asosial ataupun anti-sosial. Bahkan yang lebih ekstrem bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.72
John Gottman setelah melakukan penelitian selama sepuluh tahun terhadap orang tua dan anak-anak, menemukan hasil bahwa anak yang memiliki kecerdasan emosi tinggi mampu berhubungan lebih baik dengan orang lain, bahkan dalam situasi-situasi sosial yang sulit.73 Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengaruh-pengaruh konflik rumah tangga, seperti: kegagalan akademis, agresi dan kesulitan-kesulitan dengan rekan sebaya tidak terjadi pada anak-anak yang dilatih emosinya.74
Masih menurut Gottman, menurutnya anak yang mendapat pelatihan kecerdasan emosi dari orang tua, mereka secara emosional akan lebih cerdas, lebih penuh pengertian dan lebih mudah menerima perasaan-perasaan mereka sendiri. Mereka akan memiliki lebih banyak pengalaman memecahkan masalah sendiri dan bersama orang lain. Sebagai akibatnya mereka akan mengalami lebih banyak sukses di sekolah dan dalam hubungan mereka dengan rekan-rekan sebaya. Dengan adanya faktor-faktor pelindung semacam itu, kaum remaja ini akan terlindung dari resiko-resiko yang dihawatirkan oleh semua orang tua, seperti menggunakan obat-obat terlarang, kenakaln, kekerasan dan seks yang tidak aman.75

A.KERANGKA KONSEPTUAL
Penelitian sosial pada dasarnya merupakan suatu upaya yang sistematis untuk menerangkan fenomena sosial dengan cara memandang fenomena tersebut sebagai hubungan antar variabel, dilihat dari jenis hubungannya adalah hubungan asimetris, dimana satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya.76
Perilaku delinkuen adalah perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma hukum, norma sosial dan norma agama. Perilaku delinkuen pada dasarnya dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu: 1. Faktor eksternal (faktor keluarga seperti broken home, perlindungan lebih, penolakan orang tua, pengaruh buruk dari orang tua, faktor sekolah dan faktor milieu) 2. Faktor internal (reaksi frustrasi negatif, gangguan pengamatan dan tanggapan, gangguan cara berfikir, IQ dan emosi).77 Dari beberapa faktor tersebut yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah faktor kecerdasan emosi.
Kecerdasan emosi merupakan derajad kemampuan untuk mengetahui apa yang diri sendiri dan orang lain rasakan termasuk cara cepat menangani masalah yang dialami oleh remaja. Remaja yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu mengenali perasaan diri dan dengan terbuka mengekspresikan pikiran, keyakinan dan persaan dengan cara yang tidak destruktif, mampu untuk menghargai dan menerima diri sendiri yang pada dasarnya baik, mampu untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berfikir dan bertindak serta bebas dari ketergantungan emosional, mampu untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan orang lain, mampu untuk membangun dan membina hubungan yang sama-sama memuaskan yang tampak dari keintiman serta pemberian dan penerimaan afeksi, mampu untuk menampilkan diri sebagai anggota kelompok sosial yang kooperatif, kontributif dan konstruktif, mampu memecahkan masalah (problem solving), dan merasa puas dengan kehidupan yang dialami, menyenangi diri sendiri dan orang lain serta bisa bersenang senang.
Berbekal pada kemampuan-kemampuan yang telah disebutkan diatas remaja yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu menjalin relasi positif dengan stimuli diluar dirinya dan dapat berperilaku yang tidak melanggar norma-norma yang ada dalam masyarakat dan begitu pula sebaliknya. Goleman menegaskan bahwa kecerdasan emosi yang rendah ditandai dengan ketidak mampuan remaja dalam menjalin relasi antar pribadi.78
Berdasarkan penjelasan diatas maka kerangka konseptual yang dapat dibangun berkaitan dengan penelitian ini adalah seperti berikut:

Faktor Eksternal:
1.Lingkungan keluarga
a.Broken home
b.Perlindungan lebih
c.Penolakan orang tua
d.Pengaruh buruk orang tua
e.Dll.
2.Lingkungan sekolah,
3.Faktor milieu

Faktor internal:
1. Reaksi frustrasi negatif
2. Gangguan pengamatan
dan tanggapan
3. Gangguan cara berfikir
4. IQ
5. Kecerdasan emosi*
6. Kondisi fisik & Psikologis

Keteranga:

* Faktor pengaruh yang diteliti

B.HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotetsis adalah pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan dua variabel atau lebih, yang selalu berbentuk kalimat pernyataan (declarative), dan menghubungkan secara umum maupun khusus variabel yang satu dengan variabel yang lain.79 Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif yang signifikan antara Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Delinkuen.

C.PENELITIAN TERDAHULU YANG RELEVAN
Sebelum penelitian ini, telah ada beberapa penelitian tentang perilaku delinkuen, diantaranya adalah penelitian Fatimah Haniman pada tahun 2000 tentang Citra Diri dan Kenakalan Remaja pada Siswa SMU/K (SLTA) Peringkat Tinggi dan Peringkat Rendah Surabaya. Menemukan hasil perilaku seksual berbeda secara bermakna antara siswa SMUK/K peringkat tinggi dan peringkat rendah p < 0.05, citra diri di sekolah berbeda secara bermakna p < 0.00, citra diri dalam penghayatan agama berkorelasi negatif secara bermakna terhadap kenakalan “biasa”, penggunaan obat-obat terlarang dan kenakalan seksual. Citra diri di rumah dan di sekolah cenderung berkorelasi negatif terhadap kenakalan “biasa” dan kenakalan seksual tetapi tidak dengan kenakalan penggunaan obat-obatan.80 Penelitian Fatimah Haniman & Moeljohardjono tahun 2000 tentang Perbedaan Konsep dan Perilaku Kenakalan Remaja pada Siswa SMU/K Peringkat Tinggi dan Peringkat Rendah di Surabaya. Menemukan hasil penelitian bahwa konsep kenakalan “biasa” dan kenakalan penggunaan zat terlarang tidak berbeda antara siswa dari sekolah peringkat tinggi dan siswa dari sekolah peringkat rendah, tetapi dalam pengalaman perilaku kenakalan ternyata remaja dari sekolah tingkat rendah lebih tinggi dengan (p<0.005) dan siswa peringkat tinggi lebih rendah dengan (p<0.000).81
Penelitian Melianawati, dkk tahun 2001 tentang Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kinerja Karyawan pada karyawan non-produksi PT Dharmabakti Pakindo. Menemukan hasil yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara Kecerdasan Emosi dengan kinerja karyawan dengan (p<0.05).82
Penelitian Rini Nurahaju, S.psi pada tahun 2005 tentang pengaruh resistensi perubahan dan kecerdasan emosi dosen terhadap sikap dosen mengenahi perubahan ITS dari PTN menuju PT BHMN. Menemukan hasil ada pengaruh yang signifikan antara resistensi perubahan dan kecerdasan emosi terhadap kesiapan dosen untuk menerima perubahan ITS dari PTN menuju PT BHMN.83
Penelitan May Yustika Sari pada tahun 2005 tentang Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopatik Pada Remaja Delinkuen pada narapidana umur 13-21 yang sedang menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Yogyakarta dan Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II-A Kutoarjo. Menemukan hasil penelitian bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan kecenderungan psikotik pada remaja delinkuen. Dengan korelasi sebesar -0.623 dengan p< 0.01.84
Hampir serupa dengan penelitian diatas, maka penulis lebih memfokuskan pada Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Delinkuen pada remaja yang berada di Panti Sosial Marsudi Putra Adika Surabaya.


0 Responses to “HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU DELINKUEN PADA REMAJA-2”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


PROFIL PENULIS

Suhadianto, M.Psi, Psikolog Lahir di Lamongan 16 Maret 1983. Kegiatan sehari hari sebagai Dosen di Prodi Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Guru BK SMP Ta'miriyah Surabaya, Terapis untuk Anak Berkebutuhan Khusus dan sekaligus Trainer For Terapis Autis di Quantum Special Need Training Center Surabaya. MONGGO SILAHKAN BACA TULISAN-TULISAN TERBARU SAYA DI http://www.suhadianto.co.cc

ARSIP ARTIKEL TERDAHULU

Klik tertinggi

  • Tidak ada
Masukkan Code ini K1-89CB9F-A untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: